KERAJINAN TANGAN DESA WANUREJO
KERAJINAN FIBER
Kerajinan
tangan berbahan fiber ini menjadi salah satu souvenir yang banyak kita
jumpai di kawasan objek wisata candi Borobudur. Pembuatan kerajinan
fiber ini salah satunya berada di dusun Barepan desa Wanurejo. Kerajinan
Bisnis yang dirintis oleh Bapak
Rohmadi sejak tahun 1993 ini bermula dari usaha kecil yang didasari minat di
bidang seni yang tinggi. Berbahan dasar fiber pekat, Beliau membuat karya seni
yang dapat dijual berupa asbak dengan berbagai macam bentuk. Mulai dari katak,
candi Borobudur, dan candi Mendut. Ada pula kreasi asbak yang menggunakan
penutup berbentuk stupa candi Borobudur. Selain asbak, Beliau juga membuat
gantungan kunci berbentuk candi Borobudur dan candi Mendut. Kreasi yang tak
kalah unik lainnya adalah miniatur candi Borobudur dan candi Mendut dengan
ukuran 20 cm x 20 cm. Khusus produk miniatur candi, Beliau mempekerjakan tenaga
dari Bantul. Untuk rentang harga produk yang dipasarkan, Beliau mematok harga
dari Rp 3.500,00 sampai Rp 10.000,00.
KERAJINAN UKIR BAMBU
Kerajinan ukir bambu yang
dihasilkan di sini sebagian besar merupakan hiasan dinding yang bertema wayang.
Adapun jenis bambu yang digunakan adalah bambu wulung. Hasil produksinya
biasanya dijual di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sentra kerajinan ukir
bambu ini juga sering mendapat pesanan dari luar negeri, seperti Malaysia. Selain
itu, bagi pengunjung yang menggemari kerajinan anyaman dari bambu, di sini juga
tersedia.
Wisatawan yang berkunjung ke sentra kerajinan dan galeri ukir bambu “Seribu
Wulung” tidak hanya wisatawan lokal saja, tetapi juga wisatawan asing, seperti
dari Taiwan. Di sini, selain wisatawan dapat membeli hasil
kerajinan ukir bambu, juga bisa berlatih membuat kerajinan ukir bambu.
| Kerajinan ukir bambu diarak pada acara Gelar Budaya Wanurejo 2012 |
PROFIL DESA WANUREJO
Sejarah Desa Wanurejo
Desa
Wanurejo terletak 600 meter di sebelah timur Candi Borobudur. Kata Wanurejo
berasal dari bahasa Sansekerta, yakni vanua
yang artinya desa, dan reja yang
berarti makmur. Istilah vanurejo
disebut pertama kali dalam prasasti Canggal (723 M) sebagai salah satu desa
yang makmur pada masa kerajaan Mataram Hindu. Vanurejo kembali muncul dalam prasasti Karang Tengah berangka tahun
812 M.
Meskipun disebut-sebut dalam prasasti
peninggalan dinasti Mataram Kuno, sejarah Desa Wanurejo baru dimulai sejak
B.P.H (Bendoro Pangeran Harjo) Tejokusumo mendapatkan perintah Sultan
Hamengkubuwana II untuk membawahi sebuah tanah perdikan bernama Wonorejo. B.P.H
Tejokusumo merupakan putra Sultan Hamengkubuwana II dari garwo ampean bernama Dewi Rantamsari. B.P.H Tejokusumo kemudian
dinobatkan sebagai adipati
pada tahun 1799 dan membawahi daerah Kadipaten Wonorejo. Batas wilayah
Kadipaten Wonorejo adalah sebelah barat berbatasan dengan Desa Kajoran,
Purworejo, sebelah timur berbatasan dengan Salam, dan sebelah utara berbatasan
dengan Mertoyudan.
Sepenggal
cerita rakyat yang sampai saat ini masih hidup dalam ingatan masyarakat
Wanurejo adalah perlawanan heroik Pangeran Diponegoro melawan pemerintahan
kolonial Belanda. Konon, saat Pangeran Diponegoro memimpin perjuangan di lereng
bukit Menoreh, Eyang Wanu Tejokusumo menyamar dengan nama Wanurejo dan
membangun barisan perlawanan bersama dengan Pangeran Diponegoro. Masyarakat
Wanurejo percaya bahwa sebuah bedug bernama Genderang Perang Pangeran
Diponegoro yang disimpan di Masjid Tiban Baitul Rahman, Tingal Kulon, merupakan
bukti nyata perjuangan Eyang Wanu Tejokusumo, pendiri Kadipaten Wonorejo.
Enam
tahun berselang setelah Perang Jawa usai, pada tahun 1836, Eyang Tejo Kusumo
wafat. Oleh karena Eyang Tejo Kusumo tidak memiliki keturunan, maka ditunjuklah
Patih Cikro Pawiro sebagai pengganti Eyang Tejo Kusumo. Pada masa pemerintahan
putra Cikro Prawiro, status administratif Kadipaten yang disandang Wonorejo
berubah menjadi kelurahan. Sejarah Kadipaten Wonorejo berubah menjadi Desa
Wanurejo sampai sekarang ini.
KEINDAHAN WANUREJO
Alam Wanurejo
Desa
Wanurejo merupakan sebuah desa wisata yang terletak di kabupaten Magelang
kecamatan Borobudur. Desa ini menjadi desa pintu gerbang dari objek wisata
candi Borobudur.
Sebelum kita memasuki kawasan candi Borobudur, sisi selatan
dari jalan masuk merupakan desa Wanurejo yang sangat asri. Kurang lebih 1 km ke
arah tenggara dari candi Borobudur. Wanurejo ini termasuk dalam destinasi
wisata yang wajib dikunjungi bagi wisatawan domestik maupun wisatawan
mancanegara.
Ketika
kita memasuki jalan utama desa Wanurejo ini kita langsung disuguhkan dengan
panorama alam yang indah, berupa lereng bukit Menoreh yang menunjukkan relief
bukitnya yang elok. Di sisi lain, panorama desa yang identik dengan pemandangan
sawah serta petani-petani yang sibuk dengan pekerjaannya dan lalu lalang
masyarakat Wanurejo yang masih banyak menggunakan sepeda
Desa
wisata yang asri ini memiliki banyak potensi tempat wisata
yang cukup menarik. Desa yang teridiri dari 9 Dusun ini memiliki potensi
wisata yang berbeda-beda. Secara singkat potensi kesembilan dusun
tersebut antara lain :
2.
Dusun Tingal Kulon
3.
Dusun Tingal Wetan
4.
Dusun Bejen
5.
Dusun Ngentak
6.
Dusun Suropadan
7.
Dusun Barepan
8.
Dusun Jowahan
9.
Dusun Gedongan
Beberapa pemandangan alam pedesaan yang asri dengan latar pegunungan Menoreh:
Matahari yang muncul dari balik gunung merapim menghasilkan siluet berwarna orange.
Menyaksikan matahari terbenam yang beraada si samping view candi borobudur.
Elo Progo Art
| Pintu Gerbang Masuk Elo Progo Art |
Elo
Progo Art merupakan salah satu galeri seni yang terkenal
di Magelang. Galeri milik seniman Soni Arya Santoso ini terletak di
Dusun Bejen, Desa Wanurejo, 5 km dari Candi Borobudur. Diberi nama Elo
Progo karena galeri
seni ini terletak persis di tepi pertemuan Sungai Elo dengan Sungai
Progo. Di
dalam galeri seluas 10.000 m2 ini kita dapat menyaksikan berbagai
karya seni lukisan, bangunan-bangunan unik yang beberapa di antaranya bernuansa
khas Bali, juga pemandangan menarik berupa pertemuan antara kedua sungai tersebut dengan
latar belakang Gunung Sumbing yang sangat memanjakan mata tiap pengunjung yang
datang.
| Rumah Utama |
| Tempat menikmati Sungai progo |
Para pengunjung juga dapat memanfaatkan beberapa sudut menarik yang
telah tersedia yang terbuat dari batu maupun kayu untuk duduk-duduk bersantai
sambil ditemani dengan suara aliran sungai yang menentramkan hati.
| Jalan Setapak Menuju Galeri dan Bumi Perkemahan |
Di galeri ini terdapat sanggar lukis yang dapat dimanfaatkan pelukis untuk menyalurkan hobinya. Juga terdapat jalan setapak untuk menuju bumi perkemahan dan panggung unik yang didesain oleh seorang warga berkebangsaan Spanyol bernama Anik.
Panggung ini memiliki desain yang unik. Bagian tengah merupakan panggung utama, yang dikelilingi batu-batu klai sebagai tempat duduk penonton. Wisatawan yang datang berombongan dapat mengadakan pentas seni disini yang pastinya akan merasakan sensasi yang berbeda.
| Panggung Untuk Pertunjukan |
Di sekitar panggung terdapat
bangunan-bangunan kecil nan unik yang dapat dipakai untuk beristirahat.
Jika
melanjutkan perjalanan lagi maka pengunjung akan menemukan sebuah galeri
lukisan yang cukup besar dan memanjang. Di dalamnya terpajang lukisan-lukisan
karya Bapak Soni yang memiliki karakter khas menyerupai relief candi. Tempat
ini sering dipakai untuk mengadakan pameran lukisan maupun acara makan bersama
oleh tamu-tamu dari hotel terdekat. Kemudian pada bagian belakang bangunan
tersebut terdapat tanah lapang yang berbatasan langsung dengan pertemuan antara
Sungai Elo dengan Sungai Progo yang jernih, dan berseberangan dengan
pemandangan kebun yang asri, juga Gunung Sumbing yang terlihat cantik. Keindahan
akan bertambah ketika waktu sunset
tiba. Terkadang tanah lapang ini juga difungsikan untuk acara pementasan.
| Tempat penginapan |
| View Sunset |
| Pelataran Untuk Bumi Perkemahan |