Jumat, 17 Oktober 2014

KERAJINAN TANGAN DESA WANUREJO

KERAJINAN FIBER


Kerajinan tangan berbahan fiber ini menjadi salah satu souvenir yang banyak kita jumpai di kawasan objek wisata candi Borobudur. Pembuatan kerajinan fiber ini salah satunya berada di dusun Barepan desa Wanurejo. Kerajinan
Bisnis yang dirintis oleh Bapak Rohmadi sejak tahun 1993 ini bermula dari usaha kecil yang didasari minat di bidang seni yang tinggi. Berbahan dasar fiber pekat, Beliau membuat karya seni yang dapat dijual berupa asbak dengan berbagai macam bentuk. Mulai dari katak, candi Borobudur, dan candi Mendut. Ada pula kreasi asbak yang menggunakan penutup berbentuk stupa candi Borobudur. Selain asbak, Beliau juga membuat gantungan kunci berbentuk candi Borobudur dan candi Mendut. Kreasi yang tak kalah unik lainnya adalah miniatur candi Borobudur dan candi Mendut dengan ukuran 20 cm x 20 cm. Khusus produk miniatur candi, Beliau mempekerjakan tenaga dari Bantul. Untuk rentang harga produk yang dipasarkan, Beliau mematok harga dari Rp 3.500,00 sampai Rp 10.000,00.
 
 
 

KERAJINAN UKIR BAMBU

Jika berkunjung ke Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sempatkanlah mampir ke sentra kerajinan dan galeri ukir bambu “Seribu Wulung” milik Pak Suradi dan Pak Mursidi. Usaha ini sudah mendapat perhatian dari pemerintah daerah pada tahun 2010 dan tahun berikutnya mulai dikembangkan secara luas. Kerajinan ukir bambu “Seribu Wulung” ini sudah pernah memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori miniatur Candi Borobudur terbesar yang terbuat dari bambu.
Kerajinan ukir bambu yang dihasilkan di sini sebagian besar merupakan hiasan dinding yang bertema wayang. Adapun jenis bambu yang digunakan adalah bambu wulung. Hasil produksinya biasanya dijual di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sentra kerajinan ukir bambu ini juga sering mendapat pesanan dari luar negeri, seperti Malaysia. Selain itu, bagi pengunjung yang menggemari kerajinan anyaman dari bambu, di sini juga tersedia.
Wisatawan yang berkunjung ke sentra kerajinan dan galeri ukir bambu “Seribu Wulung” tidak hanya wisatawan lokal saja, tetapi juga wisatawan asing, seperti dari Taiwan. Di sini, selain wisatawan dapat membeli hasil kerajinan ukir bambu, juga bisa berlatih membuat kerajinan ukir bambu.

 




Kerajinan ukir bambu diarak pada acara Gelar Budaya Wanurejo 2012
 
 PROFIL DESA WANUREJO

Sejarah Desa Wanurejo

Desa Wanurejo terletak 600 meter di sebelah timur Candi Borobudur. Kata Wanurejo berasal dari bahasa Sansekerta, yakni vanua yang artinya desa, dan reja yang berarti makmur. Istilah vanurejo disebut pertama kali dalam prasasti Canggal (723 M) sebagai salah satu desa yang makmur pada masa kerajaan Mataram Hindu. Vanurejo kembali muncul dalam prasasti Karang Tengah berangka tahun 812 M.
Meskipun disebut-sebut dalam prasasti peninggalan dinasti Mataram Kuno, sejarah Desa Wanurejo baru dimulai sejak B.P.H (Bendoro Pangeran Harjo) Tejokusumo mendapatkan perintah Sultan Hamengkubuwana II untuk membawahi sebuah tanah perdikan bernama Wonorejo. B.P.H Tejokusumo merupakan putra Sultan Hamengkubuwana II dari garwo ampean bernama Dewi Rantamsari. B.P.H Tejokusumo kemudian dinobatkan sebagai adipati pada tahun 1799 dan membawahi daerah Kadipaten Wonorejo. Batas wilayah Kadipaten Wonorejo adalah sebelah barat berbatasan dengan Desa Kajoran, Purworejo, sebelah timur berbatasan dengan Salam, dan sebelah utara berbatasan dengan Mertoyudan.
Sepenggal cerita rakyat yang sampai saat ini masih hidup dalam ingatan masyarakat Wanurejo adalah perlawanan heroik Pangeran Diponegoro melawan pemerintahan kolonial Belanda. Konon, saat Pangeran Diponegoro memimpin perjuangan di lereng bukit Menoreh, Eyang Wanu Tejokusumo menyamar dengan nama Wanurejo dan membangun barisan perlawanan bersama dengan Pangeran Diponegoro. Masyarakat Wanurejo percaya bahwa sebuah bedug bernama Genderang Perang Pangeran Diponegoro yang disimpan di Masjid Tiban Baitul Rahman, Tingal Kulon, merupakan bukti nyata perjuangan Eyang Wanu Tejokusumo, pendiri Kadipaten Wonorejo.
Enam tahun berselang setelah Perang Jawa usai, pada tahun 1836, Eyang Tejo Kusumo wafat. Oleh karena Eyang Tejo Kusumo tidak memiliki keturunan, maka ditunjuklah Patih Cikro Pawiro sebagai pengganti Eyang Tejo Kusumo. Pada masa pemerintahan putra Cikro Prawiro, status administratif Kadipaten yang disandang Wonorejo berubah menjadi kelurahan. Sejarah Kadipaten Wonorejo berubah menjadi Desa Wanurejo sampai sekarang ini.
 


KEINDAHAN WANUREJO

Alam Wanurejo


Desa Wanurejo merupakan sebuah desa wisata yang terletak di kabupaten Magelang kecamatan Borobudur. Desa ini menjadi desa pintu gerbang dari objek wisata candi Borobudur. 







Sebelum kita memasuki kawasan candi Borobudur, sisi selatan dari jalan masuk merupakan desa Wanurejo yang sangat asri. Kurang lebih 1 km ke arah tenggara dari candi Borobudur. Wanurejo ini termasuk dalam destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Ketika kita memasuki jalan utama desa Wanurejo ini kita langsung disuguhkan dengan panorama alam yang indah, berupa lereng bukit Menoreh yang menunjukkan relief bukitnya yang elok. Di sisi lain, panorama desa yang identik dengan pemandangan sawah serta petani-petani yang sibuk dengan pekerjaannya dan lalu lalang masyarakat Wanurejo yang masih banyak menggunakan sepeda
Desa wisata yang asri ini memiliki banyak potensi tempat wisata yang cukup menarik. Desa yang teridiri dari 9 Dusun ini memiliki potensi wisata yang berbeda-beda. Secara singkat potensi kesembilan dusun tersebut antara lain :
 1.     Dusun Brojonalan
2.    Dusun Tingal Kulon
3.    Dusun Tingal Wetan
4.    Dusun Bejen
5.    Dusun Ngentak
6.    Dusun Suropadan
7.    Dusun Barepan
8.    Dusun Jowahan
9.    Dusun Gedongan





Beberapa pemandangan alam pedesaan yang  asri dengan latar pegunungan Menoreh:


View pegunungan Menoreh, dengan hamparan sawah dan beberapa gubuk petani.
 Matahari yang muncul dari balik gunung merapim menghasilkan siluet berwarna orange.

 Menyaksikan matahari terbenam yang beraada si samping view candi borobudur.









 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Elo Progo Art

Pintu Gerbang Masuk Elo Progo Art
Elo Progo Art merupakan salah satu galeri seni yang terkenal di Magelang. Galeri milik seniman Soni Arya Santoso ini terletak di Dusun Bejen, Desa Wanurejo, 5 km dari Candi Borobudur. Diberi nama Elo Progo karena galeri seni ini terletak persis di tepi pertemuan Sungai Elo dengan Sungai Progo. Di dalam galeri seluas 10.000 m2 ini kita dapat menyaksikan berbagai karya seni lukisan, bangunan-bangunan unik yang beberapa di antaranya bernuansa khas Bali, juga pemandangan menarik berupa pertemuan antara kedua sungai tersebut dengan latar belakang Gunung Sumbing yang sangat memanjakan mata tiap pengunjung yang datang.
Rumah Utama
Tempat menikmati Sungai progo
Para pengunjung juga dapat memanfaatkan beberapa sudut menarik yang telah tersedia yang terbuat dari batu maupun kayu untuk duduk-duduk bersantai sambil ditemani dengan suara aliran sungai yang menentramkan hati.














Jalan Setapak Menuju Galeri dan Bumi Perkemahan
















Di galeri ini terdapat sanggar lukis yang dapat dimanfaatkan pelukis untuk menyalurkan hobinya. Juga terdapat jalan setapak untuk menuju bumi perkemahan  dan panggung unik yang didesain oleh seorang warga berkebangsaan Spanyol bernama Anik.
































 Panggung ini memiliki desain yang unik. Bagian tengah merupakan panggung utama, yang dikelilingi batu-batu klai sebagai tempat duduk penonton. Wisatawan yang datang berombongan dapat mengadakan pentas seni disini yang pastinya akan merasakan sensasi yang berbeda.
Panggung Untuk Pertunjukan
Di sekitar panggung terdapat bangunan-bangunan kecil nan unik yang dapat dipakai untuk beristirahat. 


Tempat penginapan
Jika melanjutkan perjalanan lagi maka pengunjung akan menemukan sebuah galeri lukisan yang cukup besar dan memanjang. Di dalamnya terpajang lukisan-lukisan karya Bapak Soni yang memiliki karakter khas menyerupai relief candi. Tempat ini sering dipakai untuk mengadakan pameran lukisan maupun acara makan bersama oleh tamu-tamu dari hotel terdekat. Kemudian pada bagian belakang bangunan tersebut terdapat tanah lapang yang berbatasan langsung dengan pertemuan antara Sungai Elo dengan Sungai Progo yang jernih, dan berseberangan dengan pemandangan kebun yang asri, juga Gunung Sumbing yang terlihat cantik. Keindahan akan bertambah ketika waktu sunset tiba. Terkadang tanah lapang ini juga difungsikan untuk acara pementasan.
View Sunset
  

Pelataran Untuk Bumi Perkemahan
Akses masuk ke galeri ini terbuka luas bagi siapapun tanpa dipungut biaya, kecuali jika masuk dalam rangka acara yang berhubungan dengan lukisan. Dari beberapa biro pariwisata telah memasukkan Elo Progo Art ke dalam paket wisata. Seperti yang telah dijelaskan di atas, Elo Progo Art selain merupakan destinasi wisata, tempat ini juga menyediakan fasilitas untuk berkemah, menginap, pameran lukisan, serta mengadakan berbagai event lainnya. Penetapan tarif untuk penggunaan fasilitas bagi berbagai macam kegiatan tersebut bersifat fleksibel.